Kristen Sejati
An Indonesian Christian E-Forum

Yesus Kristus adalah YHWH Perjanjian Lama (Oleh: Yohannes)

Page: 2

Jika orang Yahudi yang tidak percaya kepada Akulah Dia itu akan mati dalam dosa-dosanya, maka kita dapat menyimpulkan bahwa bila mereka percaya, mereka akan diselamatkan dari kematian yang demikian. Jadi dapat dikatakan, ucapan-ucapan Akulah Dia ini terdapat dalam konteks pengampunan dosa. Hubungan ucapan egw eimi, egô eimi dan masalah dosa memberi kesan bahwa ucapan Akulah Dia dalam Yohanes 8:24 mengacu kepada Yesaya 43:24-25. Dalam terjemahan ayat-ayat ini dalam Septuaginta ungkapan egw eimi, egô eimi itu terdapat dua kali.

§                Yesaya 43:24-25, "Engkau tidak membeli tebu wangi bagi-Ku dengan uang atau mengenyangkan Aku dengan lemak korban sembelihanmu. Tetapi engkau memberati Aku dengan dosamu, engkau menyusahi Aku dengan kesalahanmu. Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu."

Ben Asher Morphological Hebrew Text, "LO-QANITA {engkau tidak membeli} LI {bagi-Ku} VAKESEF {dengan uang} QANEH {tebu wangi} VEKHELEV {dan lemak} ZVAKHEYKA {korbanmu} LO {tidak} HIRVITANI {memuaskan Aku} AK {tetapi} HE'EVADETANI {melayani Aku} BEKHATOTEYKA {dengan dosa-dosamu} HOGATANI {menyusahkan aku} BA'AVONTEYKA {dengan kesalahanmu} ANOKI {Aku} ANOKI {Aku} HU {Dia} MOKHEH {menghapus} FESYA'EYKA {pemberontakanmu} LEMA'ANI {untuk Aku sendiri} VEKHATOTEYKA {dan dosa-dosamu} LO {tidak} EZKOR {mengingat}"

Septuaginta, "oude {tidak} ekthsw {membeli} moi {aku} arguriou {uang} qumiama {ukupan} oude {tidak} to stear {lemak} twn qusiwn {korban} sou {-mu} epequmhsa {menginginkan} alla {melainkan} en {dalam} taiV amartiaiV {dosa-dosa} sou {-mu} kai {dan} en {dalam} taiV adikiaiV {kesalahan} sou {-mu} proesthn sou egw {AKU} eimi {ADA} egw {AKU} eimi {ADA} o {yang} exaleifwn {menghapuskan} tas anomiaV {pelanggaran} sou {-mu} kai {dan} ou mh {tidak} mnhsqhsomai {mengingat}" – "oude ektêsô moi arguriou thumiama oude to stear tôn thusiôn sou epethumêsa alla en tais hamartiais sou kai en tais adikiais sou proestên sou egô eimi egô eimi ho exaleiphôn tas anomias sou kai ou mê mnêsthêsomai"

Bentuk penyelamatan yang lebih umum tersirat dalam latar belakang kata-kata Yesus Kristus dalam Yohanes 8:24. Yang dimaksud penyelamatan yang berhubungan dengan semua perkataan Akulah Dia (Yesaya 41:4; 43:10, 13, 25; 46:4; 48:12) yang didalamnya YHWH adalah yang menciptakan segala sesuatu, yang membangkitkan Koresy untuk mengalahkan Babel, dan yang akan memulihkan kemakmuran Israel. Seluruh kuasa-Nya dipusatkan pada penyelamatan terhadap umat-Nya. Sekarang kita mendengar ucapan Yesus Kristus yang sama dalam keadaan yang sejajar, yakni YHWH yang menciptakan segala sesuatu melalui firman-Nya adalah yang menyelamatkan manusia melalui kehidupan YHWH yang menjadi manusia tersebut. Jadi kita dapat menafsirkan ucapan itu sebagai "Akulah Dia dan melalui Aku dilaksanakan penyelamatan."

Dalam ayat-ayat berikutnya YHWH berseru supaya umat-Nya mengingat Dia (Yesaya 43:26) dan memperingatkan mereka akan hukuman yang didatangkan-Nya atas orang yang berbuat dosa terdahulu. Ucapan Akulah Dia dari kitab Yesaya ini membuat jelas peringatan Yesus Kristus bahwa orang Yahudi akan mati dalam dosa mereka, karena dalam kitab Yesaya ucapan itu terdapat dalam konteks beban dosa yang ditaruh oleh orang Yahudi pada YHWH. Tetapi mereka harus percaya kepada Dia, karena Dialah yang menghapus dosa mereka dan tidak mengingat-ingat pelanggaran mereka.

Jika ucapan Yesus Kristus Akulah Dia dalam Yohanes 8:24 mengacu pada ayat-ayat dalam Yesaya ini dan juga kepada Yesaya 43:10, maka implikasi-implikasi yang sama dapat dikaitkan dengan ucapan Akulah Dia dalam Yohanes 8:28. Bila Yesus Kristus berkata egw eimi, egô eimi Ia menyamakan diri-Nya dengan YHWH yang mengampuni orang berdosa. Dengan kata lain, pada saat Yesus Kristus ditinggikan oleh orang Yahudi, akan nyata bahwa Dialah orang yang menghapus pelanggaran dan tidak mengingat-ingat dosa lagi. Tetapi mereka yang tidak percaya akan mati dalam dosa mereka.

Ada persesuaian antara kata-kata AVIKHA HARISYON KHATA, oi pathrhV umwn prwtoi, hoi pateres humôn prôtoi, "Bapa leluhurmu yang pertama sudah berdosa" (Yesaya 43:27) dan umeiV oun o ewrakate para tw patri umwn poieite, humeis oun ho heôrakate para tô patri humôn poieite, "kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari Bapamu" (Yohanes 8:38).

Dalam bagian ini tidak akan dibicarakan pemakaian egw eimi, egô eimi dalam Yohanes 13:19. Tetapi jelas bahwa frasa percaya, bahwa Akulah Dia di sini memperoleh maknanya dari pemakaian kata-kata tersebut dalam Yohanes 8:24, 28. Interaksi antara segala ucapan Akulah Dia dalam Injil Yohanes mengisyaratkan, bahwa implikasi latar belakangnya mempengaruhi tafsiran Yohanes 13:19 maupun ucapan Akulah Dia yang mengakhiri Yohanes 8.

§                Yohanes 8:58, "Kata Yesus kepada mereka: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.'"

Stephanus Textus Receptus, "eipen {berkata} autoiV {kepada mereka} o ihsouV {Yesus} amhn {Amin} amhn {Amin} legw {Aku berkata} umin {kepadamu} prin {sebelum} abraam {Abraham} genesqai {menjadi} egw {AKU} eimi {ADA}" – "eipen autois ho iêsous amên amên legô humin prin abraam genesthai egô eimi"

The Orthodox Jewish Brit Chadasha, "Rebbe, Melech HaMoshiach said to them, 'OMEIN, OMEIN, I say to you, before Avraham came into being, ANI HU."

LAI menerjemahkan egw eimi, egô eimi dalam ayat ini sebagai Aku telah ada. Kontras antara geneqai, genethai dan eimi, eimi dalam ucapan ini, mengingatkan kita akan kontras yang serupa dalam pendahuluan Injil Yohanes. Kontras ini berarti, dalam Yohanes 8:58, kata kerja eimi, eimi lebih ditekankan daripada kata ganti egw, egô. Ucapan ini merupakan klimaks pembicaraan tentang jati diri Yesus Kristus dan merupakan jawaban atas pertanyaan "Adakah engkau lebih besar daripada bapa kita Abraham yang telah mati!". Ucapan egw eimi, egô eimi juga merupakan tanggapan terhadap pertanyaan, "Dengan siapakah engkau samakan diri-Mu?" (Yohanes 8:53). Masalah jati diri Yesus Kristus juga menimbulkan pertanyaan dalam Yohanes 8:57 yang langsung memicu jawaban egw eimi, egô eimi ini. Dengan demikian, Yesus Kristus mengucapkan egw eimi, egô eimi bukan hanya untuk menyatakan bahwa Ia telah ada sebelum Abraham, melainkan juga keberadaan itu tetap berlaku. Karena itu ucapan egw eimi, egô eimi ini langsung menyangkut sifat hakiki-Nya selaku YHWH.

Dapat dikatakan bahwa kata-kata ini menerangkan orang yang bagaimana Yesus Kristus itu, yakni Ia sudah ada sebelum menjadi manusia dan tidak seperti Abraham. Karena itu ucapan tersebut dapat digolongkan kepada kategori "memberi sifat". Memang Yesus Kristus tidak secara langsung menyebut diri-Nya sebagai orang yang dinantikan itu, sehingga tidak termasuk kategori "pernyataan", namun Ia menyamakan diri-Nya dengan YHWH. Ini diperkuat oleh kenyataan bahwa orang Yahudi ingin melempari Dia. Ketika mereka hendak melempari Dia lagi mereka menyebut alasannya yaitu "karena engkau sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah" (Yohanes 10:33).

Mungkin ucapan egw eimi, egô eimi dalam Yohanes 8:58 sebaiknya tidak dianggap sebagai acuan langsung kepada salah satu ucapan dalam kitab Yesaya, melainkan sebagai perkembangan khusus dari acuan-acuan yang berkaitan dengan ucapan-ucapan lain dalam Yohanes 8. Kita dapat menelusuri hubungan-hubungan lain yang ada antara Yesaya 42-43 dan ucapan egw eimi, egô eimi yang terakhir dalam Yohanes 8 ini. Dalam terjemaian Septuaginta dari Yesaya 43:10, kata kerja ginomai, ginomai, menjadi terdapat dalam ayat yang sama dengan egw eimi, egô eimi. Dalam kitab Yesaya, kedua kata kerja itu tidak dikontraskan, sehingga hubungan antara keduanya tidak meyakinkan. Targum Yesaya juga menyebutkan Abraham dalam konteks ini.

Struktur Yohanes 8 tampaknya menunjukkan bahwa kita musti menyadari adanya interaksi antara segala frasa egw eimi, egô eimi dalam perdebatan dengan orang Yahudi ini. Ketiga pemakaian egw eimi, egô eimi dalam Yohanes 8:24, 28 dan 58 bersifat "mutlak" -- tidak mempunyai predikat --, sehingga ketiganya harus mengikuti bentuk yang dipakai dalam Yohanes 8:58 dan bukan bentuk kedua ayat lainnya yang sering diterjemahkan dengan cara yang bermakna ganda. Kata egw eimi, egô eimi adalah pengucapan nama YHWH dan istilah itu dipakai secara konsisten.

Jelaslah, frasa egw eimi, egô eimi dalam ayat terakhir ini memaksa pembaca memahami kata-kata Yesus Kristus sebagai penyataan bahwa Ia adalah YHWH. Reaksi orang Yahudi -- mereka mengambil batu untuk melempari Dia -- menguatkan pendapat bahwa Yesus Kristus menyamakan diri-Nya dengan YHWH pada saat Ia mengucapkan egw eimi, egô eimi pada bagian sebelumnya dalam Yohanes 8. Sebenarnya ini nyata juga dari bentuk ucapan terakhir ini yang berbeda sedikit dari bentuk ucapan egw eimi, egô eimi lainnya dalam Yohanes 8. Pembaca yang memahami Yohanes 8:24 dan 28 sebagai acuan kepada penyataan YHWH yang bersifat eksklusif akan menyadari bahwa ucapan Yesus Kristus tersebut memang demikian maksudnya.

Dengan memakai kata-kata yang sama -- egw eimi, egô eimi --, Yesus Kristus menyatakan bahwa Ia sudah ada sebelum Abraham ada. Ia bukan hanya memakai kata-kata YHWH, melainkan menyamakan diri-Nya dengan YHWH. Orang-orang Yahudi dapat memahami makna perkataan-Nya, tetapi mereka tidak mau mengakui kesaksian-Nya benar. Karena itu mereka hendak melempari Yesus Kristus.

Ada empat implikasi dari latar belakang ucapan egw eimi, egô eimi dalam kitab Yesaya menyangkut pluralisme agama sedangkan ucapan-ucapan egw eimi, egô eimi dalam Injil Yohanes sangat relevan bagi masalah inkarnasi YHWH. Ada pula enam ciri khas penggunaan ANI HU dalam Yesaya dan kita akan memusatkan perhatian pada empat dari keenam ciri tersebut untuk memperlihatkan kesejajaran ciri-ciri itu dengan frasa egw eimi, egô eimi dalam Injil Yohanes.

Pertama, perkataan ANI HU adalah ucapan khas YHWH. Perkataan ini senantiasa diucapkan oleh YHWH saja dan dikaitkan erat dengan ungkapan lain yang dipakai oleh YHWH untuk menyatakan diri-Nya, khususnya dengan frasa ANI YHWH. Frasa ANI HU dalam Yesaya senantiasa diucapkan oleh YHWH. Pernyataan ini hanya dapat diucapkan oleh YHWH sendiri. Jika ada orang lain yang mengungkapkan kata-kata ini, maka ia menyombongkan dirinya, mencoba menyamakan dirinya dengan YHWH, atau menggantikan-Nya. Salah satu contoh untuk ini terdapat dalam ayat di bawah ini yaitu mengutip kesombongan Babel.

§                Yesaya 43:7, "Oleh sebab itu, dengarlah ini, hai orang yang hidup bermanja-manja, yang duduk-duduk dengan tenang, yang berkata dalam hatimu: '(ANI) Tiada yang lain di sampingku! Aku tidak akan jadi janda dan tidak akan menjadi punah!"

Entah kenapa, Lembaga Alkitab membuang kata-kata Aku ada sebelum ungkapan "Tiada yang lain di sampingku!", kita bandingkan dengan Terjemahan Lama, "Maka sekarang dengarlah ini, hai engkau yang berlezat! yang duduk dengan sentosa serta berkata dalam hatimu begini: Aku yang demikian ini, maka seorangpun tiada yang lebih daripada-Ku; sekali-kali tiada aku akan duduk janda atau mengetahui ketiadaan anak."

Yang menarik, Yesaya di sini memakai sepatah kata saya (ANI) untuk menyatakan Aku ada. Jelaslah ia memperhadapkan pernyataan Babel itu dengan ANI HU yang diucapkan YHWH, namun ia tidak membiarkan seorang pun kecuali YHWH memakai frase tersebut.

Kita perhatikan, frase ANI HU (Akulah Dia) kadang-kadang muncul dalam bentuk ANI YHWH (Akulah TUHAN) atau KI-ANI HU (Aku tetap Dia), misalnya Yesaya 41:4; 43:10, 13. Dalam Yesaya 51:12, frase ini ANOKI ANOKI HU (Akulah, Akulah yang ...) muncul dalam konteks yang sama dengan frase ANOKI YHWH ELOHEYKA, Akulah TUHAN Allahmu dan dalam Yesaya 46:4, ANI HU (Aku tetap Dia) diikuti dengan frasa ANOKI EL (Akulah Allah) dalam ayat 9. Dalam Yesaya 48:12, frasa ini terdapat dalam kalimat yang hampir sama dengan kalimat dalam Yesaya 41:4 yang memakai kedua frase ANI YHWH dan ANI HU. Semua ini menunjukkan bahwa Yesaya memakai frase ANI HU sebagai bentuk singkat dari ungkapan lain, khususnya dari Akulah YHWH. Dengan frase singkat itu ia meringkaskan segala sesuatu yang terkandung dalam ungkapan yang lebih panjang.

Kutipan dari ayat-ayat di atas:

§                Yesaya 41:4, "Siapakah yang melakukan dan mengerjakan semuanya itu? Dia yang dari dahulu memanggil bangkit keturunan-keturunan, Aku, TUHAN, yang terdahulu, dan bagi mereka yang terkemudian Aku tetap Dia juga." – "MI-FA'AL VE'ASAH QORE HADOROT MEROSY ANI YHWH RISYON VE'ET-AKHARONIM ANI-HU'

§                Yesaya 43:10, "'Kamu inilah saksi-saksi-Ku,' demikianlah firman TUHAN, 'dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.'" - "ATEM EDAY NE'UM-YHWH VE'AVDI ASYER BAKHARTI LEMA'AN TED'U VETA'AMINU LI VETAVINU KI-ANI HU LEFANAY LO-NOTSAR EL VE'AKHARAY LO YIHYEH"

§                Yesaya 43:13, "Juga seterusnya Aku (ANI) tetap Dia (HU), dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?"

§                Yesaya 46:4, "Sampai masa tuamu Aku (ANI) tetap Dia (HU) dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu."

§                Yesaya 48:12, "Dengarkanlah Aku, hai Yakub, dan engkau Israel yang Kupanggil! Akulah yang tetap sama (ANI-HU), Akulah yang terdahulu, Akulah juga yang terkemudian!"

§                Yesaya 51:12, "Akulah, Akulah yang menghibur kamu. Siapakah engkau maka engkau takut terhadap manusia yang memang akan mati, terhadap anak manusia yang dibuang seperti rumput," – "ANOKI ANOKI HU MENAKHEMKEM MI-AT VATIR'I ME'ENOSY YAMUT UMIBEN-ADAM KHATSIR YINATEN"

Sangat mengesankan, Yesus Kristus menyebut diri-Nya sendiri dengan suatu ungkapan dalam Kitab Yesaya yang hanya digunakan untuk Allah sendiri. Memang frase egw eimi, egô eimi tidak hanya dipakai oleh Yesus Kristus saja dalam Injil Yohanes. Namun cara Yesus Kristus memakai ungkapan itu begitu erat menyamakan diri-Nya dengan karya penyelamatan YHWH, bahkan menyiratkan Dia adalah YHWH sendiri, sehingga egw eimi, egô eimi itu searti dengan ucapan "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30).

Orang Yahudi memahami bahwa dengan berkata demikian Yesus Kristus menyamakan diri-Nya dengan YHWH (Yohanes 10:33), sehingga mereka hendak melempari Dia dengan batu. Reaksi ini menegaskan kepada pembaca bahwa orang Yahudi itu memahami kata-kata dalam Yohanes 8:58 dengan cara yang sama.

Dalam kitab Yesaya frase ANI HU diucapkan YHWH untuk menyatakan hak-Nya yang eksklusif atas umat-Nya. Karena itu jika ada orang yang mengutip frase tersebut dalam konteks seperti itu dan menyebut dirinya demikian, maka orang itu menyombongkan diri secara keterlaluan. Demikianlah penilaian orang Yahudi terhadap ucapan Yesus Kristus. Tetapi dari aspek Injil Yohanes, bukanlah Yesus Kristus yang menyamakan diri-Nya dengan YHWH, melainkan sebaliknya: Firman yang pada mulanya bersama-sama dengan YHWH, dan adalah YHWH telah menjadi manusia (sarx egeneto, sarx egeneto, menjadi daging, Yohanes 1:14).

Karena dalam Injil Yohanes, kata-kata tersebut diucapkan oleh Yesus Kristus, maka setidak-tidaknya itu berarti bahwa jemaat penganut ajaran Yohanes memandang kata-kata itu bukan hanya sebagai pengakuan mereka saja, melainkan sebagai kebenaran mengenai jati diri Yesus Kristus. Dari segi kristologi Yohanes, Yesus Kristus adalah unik, bukan karena apa yang YHWH lakukan melalui Dia sebagai manusia, melainkan karena Ia sendiri adalah YHWH. Yohanes 8:58 berbicara tentang kodrat ilahi Yesus Kristus yang ada sebelum Abraham ada. Perkataan prin abraam genesqai egw eimi, prin abraam genesthai egô eimi dalam Yohanes 8:58 yang membuat orang Yahudi marah sekali masih sangat dibenci oleh orang Yahudi dan orang Islam masa kini, karena kata-kata itu menyamakan hakikat Yesus Kristus dengan hakikat YHWH.

Mereka menolak keras pandangan bahwa YHWH menjadi manusia; seseorang yang menyamakan diri dengan YHWH dianggap menghujat YHWH, setidak-tidaknya Yesus Kristus menyatakan bahwa Dia adalah sama dengan YHWH itu sendiri. Acuan kepada ANI HU dalam Kitab Yesaya menyangkut penyamaan diri Yesus Kristus dengan perkataan, karya, dan hakikat YHWH.

Beberapa ahli berpendapat bahwa kata-kata ini hanya mencerminkan pengakuan iman jemaat Kristen mula-mula. Pendapat ini tidak hanya menyangkal kebenaran kata-kata itu sebagai kesaksian tentang Yesus Kristus, tetapi juga mengabaikan bahwa jemaat penganut Yohanes meyakini hakikat Yesus Kristus sama dengan YHWH. Bagi penulis Injil Yohanes, inkarnasi bukanlah mitos dan tidak hanya menyatakan apa yang mereka lihat tentang YHWH dalam diri Yesus Kristus.

Mitos adalah cerita yang tidak benar secara harfiah, atau gagasan, atau kiasan yang tidak diterapkan secara harfiah kepada sesuatu tetapi yang mengundang sikap tertentu dari para pendengar. Secara harfiah tidak benar bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang menjadi manusia karena kata-kata itu tidak mempunyai arti harfiah. Gelar ini merupakan suatu gagasan mitologis yang dikenakan kepada Yesus Kristus; fungsinya sama dengan kedudukan seorang raja yang dianggap sebagai anak dewa di dunia kuno. Ini adalah pendapat beberapa ahli tersebut di atas.

Firman menjadi manusia bukan hanya suatu tafsiran tentang makna Yesus Kristus, melainkan sungguh-sungguh makna Yesus Kristus sendiri. Seandainya Anak tidak datang dan diam di antara manusia, maka Bapa tidak akan dinyatakan.

§                Yohanes 1:14, "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran."

Stephanus Textus Receptus, "kai {dan} o logoV {Firman} sarx {daging} egeneto {menjadi} kai {dan} eskhnwsen {tinggal} en {di antara} hmin {kita} kai {dan} eqeasameqa {kita melihat} thn doxan {kemuliaan} autou {-Nya} doxan {kemuliaan} wV {seperti} monogenouV {satu-satunya} para {dari} patroV {Bapa} plhrhV {penuh} caritoV {kasih karunia} kai {dan} alhqeiaV {kebenaran}" - "kai ho logos sarx egeneto kai eskênôsen en hêmin kai etheasametha tên doxan autou doxan hôs monogenous para patros plêrês kharitos kai alêtheias"

The Orthodox Jewish Brit Chadasha, "And the DVAR HASHEM took on GUFANIYUT and made his MISHKAN among us, and we gazed upon his KAVOD, the SHECHINAH of the BEN YACHID from ELOHIM HAAV, full of HASHEM'S CHESED and EMES."

§                Yohanes 1:18, "Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya."

Stephanus Textus Receptus, "theon {Allah} oudeiV {tidak seorang pun} ewraken {sudah melihat} pwpote {pada waktu apa saja} o {yang} monogenhV {satu-satunya} uioV {Ben} o {yang} wn {ada} eiV {di} ton kolpon {pangkuan} tou patroV {Bapa} ekeinoV {Dia} exhghsato {telah menyatakan}" - "theon oudeis heôraken pôpote ho monogenês huios ho ôn eis ton kolpon tou patros ekeinos exêgêsato"

The Orthodox Jewish Brit Chadasha, "No one has ever seen HASHEM. It is ELOHIM the BEN YACHID, it is he, the one being in the KHEYK of HAAV, this one is HASHEM'S definitive DERUSH."

Bagi Yohanes, Anak itu dapat menyatakan Bapa bukan hanya karena Ia ada dalam pangkuan Bapa, melainkan karena Ia adalah Firman yang ada pada mulanya ada bersama-sama dengan YHWH. Singkatnya, Ia adalah YHWH. Penyamaan Yesus Kristus dengan YHWH secara hakiki (ontologis), merupakan dasar bagi pemakaian ucapan egw eimi, egô eimi yang dikemukakan di atas.

Penyamaan ini merupakan dasar kristologi Yohanes. Ada yang mengatakan bahwa inkarnasi tidak langsung dinyatakan dalam Alkitab. Pendapat ini keliru jika kita bandingkan dengan Yohanes 1:1 dan 1:14 kecuali bila yang dimaksudkan ialah bahwa inkarnasi tidak diungkapkan dalam Alkitab sebagai rumusan pengakuan Gereja. Bahkan pengecualiaan ini juga tidak benar seluruhnya mengingat apa yang dikatakan dalam ayat-ayat berikut ini:

§                Ibrani 1:2, "maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta."

Stephanus Textus Receptus, "ep {pada} escatwn {terakhir} twn hmerwn {hari-hari} toutwn {ini} elalhsen {telah berbicara} hmin {kepada kita} en {dalam} uiw {Anak} on {yang} eqhken {Dia telah menetapkan} klhronomon {ahli waris} pantwn {segala sesuatu} di {oleh} ou {Dia} kai {dan} touV aiwnaV {dunia} epoihsen {Dia menjadikan}" - "ep eskhatôn tôn hêmerôn toutôn elalêsen hêmin en huiô hon ethêken klêronomon pantôn di hou kai tous aiônas epoiêsen"

The Orthodox Jewish Brit Chadasha, "At the KETZ HAYAMIM HASHEM spoke to us by HABEN, whom He appointed BECHOR of the BECHORAH, YORESH KOL, through whom also HASHEM BARAH ES HASHOMAYIM V'ES HAARETZ;"

§                Filipi 2:6, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,"

Stephanus Textus Receptus, "oV {yang} en {adalah} morfh {rupa} qeou {Allah} uparcwn {menjadi} ouc {tidak} arpagmon {merampas} hghsato {menganggap} to einai {adalah} isa {sama dengan} qew {Allah}" - "hos en morphê theou huparkhôn oukh harpagmon hêgêsato to einai isa theô"

The Orthodox Jewish Brit Chadasha, "who, though existing in the DEMUT of the mode of being of ELOHIM, did not regard being equal with G-d as a thing to be seized,"

Ada pula yang mengatakan bahwa injil yang keempat -- yang paling mendekati ajaran ini -- juga tidak menegaskan ajaran tentang inkarnasi yang diterima pada abad-abad kemudian. Sebaliknya, dalam bagian akhir Injil Yohanes, Thomas mengaku Yesus Kristus sebagai o kurioV mou kai o qeoV mou, ho kurios mou kai ho theos mou, ADONI AND ELOHAI "Ya Tuhanku dan Allahku", dan Yesus Kristus menerima pengakuan itu (Yohanes 20:28).

Ada yang memahami Injil Yohanes "dengan cara yang tidak historis belaka". Yang membuat mereka berpendapat demikian adalah kedua pernyataan Yesus Kristus: Ia satu dengan Bapa dan Dia ada sebelum Abraham. Bagi mereka, ini berarti implikasi-implikasi Injil Yohanes bagi ajaran Kristen mungkin berbeda sekarang dengan apa yang dipahami oleh jemaat Kristen mula-mula. Mereka menghubungkan historisitas Injil Yohanes dengan keabsahannya sebagai dasar ajaran Kristen. Dengan demikian secara tidak langsung mengakui bahwa otoritas ajaran Kristen berhubungan erat dengan historisitas. Mengingat Yohanes mengemukakan suatu kristologis ontologis -- menyangkut hakekat Kristus -- mungkin mereka mengusulkan agar Injil Yohanes jangan dipandang sebagai catatan historis atas dasar kepercayaan sendiri bahwa Yesus Kristus bukanlah Anak Allah, apalagi sebagai YHWH.

Ini menandakan bahwa mereka memahami implikasi kristologi Yohanes, yang bersifat hakiki (ontologis), bukan hanya bersifat fungsional. Dengan ucapan-ucapan egw eimi, egô eimi Yesus Kristus mengungkapkan sesuatu yang hanya boleh diungkapkan oleh YHWH. Kata-kata Yesus Kristus bukan penyombongkan diri, melainkan justru membuktikan kesamaan hakekat Yesus Kristus dan hakekat YHWH. Ini didukung oleh kenyataan bahwa ucapan-ucapan Yesus Kristus dalam Injil Yohanes sering mengambil bentuk yang mengingatkan ucapan-ucapan YHWH dalam kitab Yesaya.

Di atas telah dikemukakan bahwa pertama, perkataan egw eimi, egô eimi atau ANI HU senantiasa diucapkan oleh YHWH saja dan dikaitkan erat dengan ungkapan lain yang dipakai oleh YHWH untuk menyatakan diri-Nya.

Kedua, frase ANI HU mempunyai makna bahwa hanya YHWH saja Allah, kontras dengan ilah-ilah yang disembah bangsa-bangsa lain. Penegasan tentang monotheisme yang menyisihkan ilah-ilah lain merupakan tema besar Yesaya yang diungkapkan dengan berbagai cara. Secara eksplisit Yesaya menegaskan, tidak ada ilah kecuali YHWH (Yesaya 44:6,8; 45:5,6,18,21-22; 46:9).

Seperti yang dikemukakan di atas, ucapan-ucapan egw eimi, egô eimi dalam Injil Yohanes sengaja mengacu kepada ucapan-ucapan yang serupa dalam Kitab Yesaya. Perlu diperhatikan, Yesus Kristus bukan hanya disamakan dengan YHWH, tetapi juga mengambil alih suatu frase, yang menyisihkan ilah-ilah lain. Jika kita telaah lebih lanjut Yesaya 41:4 yang telah dua kali dikutip di atas, sejak awal sejarah YHWH berkarya, dan Ia juga adalah Yang Awal. Ia tidak diturunkan dari ilah-ilah lain sebagaimana ilah-ilah Babel merupakan keturunan dari ilah-ilah sebelumnya. Hanya YHWH saja yang tidak mempunyai silsilah (Yesaya 43:10). YHWH adalah juga Yang Akhir. Ia akan tetap sebagai Allah ketika generasi manusia yang terakhir berakhir. Agama Babel dan agama-agama lain dari Timur Tengah tidak mempunyai pernyataan seperti itu. Dalam agama politheis, pernyataan demikian itu tidak terbayangkan. Bahkan dalam sejarah agama Israel, hal itu belum pernah dinyatakan begitu jelas seperti dalam Kitab Yesaya. Seperti yang diperlihatkan dari perikop-perikop lain, ANI HU dipakai oleh Yesaya khusus untuk menyatakan keyakinan bahwa YHWH-lah Allah satu-satunya.

Sama seperti ucapan-ucapan ANI HU dalam kitab Yesaya, ucapan-ucapan egw eimi, egô eimi dalam Injil Yohanes menyatakan bahwa Allah adalah Yang satu-satunya. Ini tampak dari pernyataan Yesus Kristus dalam ucapan-ucapan egw eimi, egô eimi yang diikuti dengan predikat. Yesus Kristus mengatakan, Dialah jalan satu-satunya bagi mereka yang mau datang kepada Bapa (Yohanes 14:6). Ia memakai gagasan dari Perjanjian Lama ketika Ia menyatakan diri-Nya sebagai Gembala Yang Baik dan Pokok Anggur yang Benar; tidak ada orang lain yang dapat memakai gelar-gelar itu. Semua orang yang datang sebelum Dia adalah pencuri dan perampok, tetapi Dia adalah pintu dan barangsiapa yang masuk melalui Dia akan selamat (Yohanes 10:8-9). Perkataan "kamu akan mati dalam dosamu" (Yohanes 8:24) menunjukkan hanya Yesus Kristus yang dapat mengampuni dosa dan pengampunan itu terjadi hanya melalui kepercayaan kepada Dia yang adalah YHWH, bukankah hanya YHWH yang dapat mengampuni dosa?

Bahasa seperti itu dan khususnya dalam rumusannya menurut Pengakuan Iman Nicea, berarti Allah dapat dikenal dan ditanggapi hanya melalui Yesus Kristus dan dengan demikian segala hidup keagamaan di luar kepercayaan Yahudi-Kristen berada di luar lingkungan penyelamatan oleh Allah. Ada yang menolak teologi seperti ini dengan alasan bahwa agama Kristen pada masa kini harus berhadapan dengan agama-agama lain. Namun mereka menganggap Injil Yohanes ditulis di Efesus menjelang akhir abad pertama.

Menurut Kisah Para Rasul 19, huru-hara di Efesus terjadi karena mereka yang berpaling kepada Kristus tidak menyembah lagi ilah-ilah seperti Artemis. Seandainya Injil Yohanes tidak ditulis di Efesus, tetap saja tidak ada tempat dalam kerajaan Roma, di mana Gereja Kristen mula-mula dapat memisahkan diri dari agama-agama lain, kecuali mungkin di Palestina.

Jika ini benar, yaitu Injil Yohanes ditulis di Efesus, maka Injil Yohanes ditujukan kepada Gereja yang sudah biasa berhadapan dengan agama-agama lain dalam situasi yang hampir sama dengan masa kini. Yohanes tidak memandang Yesus Kristus sebagai semacam ilah yang mengambil-alih kedudukan ilah-ilah lain di Efesus dan Asia Kecil, justru sebaliknya, Yohanes menggambarkan Kristus sebagai seorang yang menyebut diri-Nya sendiri dengan kata-kata yang hanya dipakai untuk YHWH, yaitu YHWH saja Allah satu-satunya, bukan ilah-ilah bangsa-bangsa lain. Yang ironis, mereka yang membantah hal ini justru memakai istilah logoV, logos untuk Kristus yang diciptakan oleh imajinasi mereka, padahal logoV, logos merupakan istilah yang langsung menyatakan kesamaan hakekat Yesus Kristus dengan YHWH.

Frasa ANI HU di samping diucapkan oleh YHWH saja dan menyatakan bahwa hanya YHWH saja sebagai Allah, juga menggambarkan YHWH sebagai Tuhan atas sejarah, karena itu merupakan seruan untuk percaya kepada Dia sebagai penebus Israel. Bagi Yesaya, kepercayaan kepada Allah sebagai YHWH atas sejarah berkaitan dengan pernyataan bahwa hanya Dia saja Allah. Keyakinan akan kuasa YHWH atas sejarah ini dinyatakan secara khusus dalam keyakinan sang nabi bahwa YHWH akan segera menebus Israel dan memulangkan mereka pulang ke tanah air mereka. Gagasan-gagasan ini terjadi dalam beberapa perikop misalnya Yesaya 44:6-8; 46:5-13.

Salah satu tugas Yesaya adalah menguatkan iman orang-orang buangan di Babel. Ia meyakinkan mereka bahwa YHWH akan segera membawa mereka kembali ke negeri mereka. Ia sadar, banyak orang menganggap YHWH tidak berdaya, sebab raja Babel telah menghancurkan Bait YHWH di Yerusalem, lalu membawa banyak orang Israel ke pembuangan. Dalam konteks yang memerlukan pemulihan iman ini, Yesaya menggambarkan YHWH menyebut diri-Nya sebagai ANI HU, Aku tetap Dia.

Seperti yang dikemukakan di atas, ucapan Yesus Kristus, egw eimi o lalwn soi, egô eimi ho lalôn soi ("Akulah Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau", Yohanes 4:26) dengan sengaja mengacu kepada saat ketika YHWH akan menebus Yerusalem dan secara tidak langsung menyamakan Yesus Kristus dengan penebusan itu. Bagaimana pun juga, ucapan-ucapan egw eimi, egô eimi dalam Injil Yohanes, sama seperti dalam Yesaya telah digenapi dalam sebuah peristiwa sejarah. Murid-murid Yesus Kristus akan percaya oti egw eimi, hoti egô eimi ("bahwa Akulah Dia", Yohanes 13:19) dalam peristiwa-peristiwa sesudah Yesus Kristus dikhianati oleh Yudas Iskariot. Manakala para pengikut dan penentang Yesus Kristus melihat bagaimana Ia dikhianati, menderita, dan disalibkan, mereka akan sadar. Dialah YHWH itu.

Menarik juga Yohanes Pembaptis menyebutkan tugasnya sebagai penggenapan kata-kata Alkitab, euqunate thn odon kuriou, euthunate tên hodon kuriou (Luruskanlah jalan Tuhan!, Yohanes 1:23). Menurut konteksnya dalam kitab Yesaya, ucapan ini, sama seperti ucapan ANI HU, berbicara mengenai persiapan bagi kedatangan YHWH. Akan tetapi, dalam Injil Yohanes, jalan itu dipersiapkan bagi Yesus Kristus.

Murid-murid-Nya menyadari, dengan menyebut diri-Nya dengan kata-kata YHWH, Yesus Kristus sendiri yang menghapus dosa, sebab hanya Dia yang bersatu dengan Bapa. Dengan cara memakai egw eimi, egô eimi ini, Yohanes juga ingin membuat para pembacanya percaya.

Penyamaan diri Yesus Kristus dengan YHWH dalam penyaliban dan pengkhianatan merupakan masalah bagi para penganut pluralisme agama. Ada yang mengemukakan bahwa kita tidak perlu lagi memandang Yesus Kristus sebagai inkarnasi YHWH, dan juga tidak membicarakan masalah salib Kristus dalam teologi mereka. Padahal, justru inkarnasi serta salib itulah yang membuat agama Kristen unik. Secara sama mereka ini menyatakan bahwa pertemuan dengan Yesus Kristus senantiasa dapat menjadi titik balik dalam kehidupan seseorang, suatu krisis penyelamatan atau penghukuman. Tetapi mereka yang berpikiran demikian tidak menjelaskan, orang tersebut diselamatkan dari apa, atau apa yang dihukum dalam pertemuan ini. Tampaknya pertemuan tersebut tidak terjadi sebagai bagian dari karya penebusan yang menentukan, seperti dalam teologi Kristen orthodoks.

Mereka mengusulkan agar inkarnasi dianggap sebagai mitos. Dengan demikian mereka menyingkirkan keyakinan agama Kristen bahwa dalam Yesus Kristus, YHWH secara menentukan memungkinkan penyelamatan manusia. Mereka menciptakan suatu tokoh Yesus Kristus yang dapat diterima oleh segala agama, dan dengan demikian mereka justru menciptakan suatu mitos yang tidak didasarkan pada bukti historis mengenai Yesus Kristus dari Nazaret dan yang tidak berpengaruh bagi sejarah. Ada pula yang juga menganut suatu teologi tanpa inkarnasi mencoba mengartikan salib dengan mengakui perlunya salib untuk mengalahkan kejahatan, penderitaan, dan dosa melalui meditasi terhadap cerita tentang YHWH yang tersalib. Mereka ini pula menyimpulkan bahwa Yesus Kristus hendaknya dilihat sebagai panutan orang percaya; di dalam Yesus Kristus, YHWH terlibat dalam realitas keberadaan manusia, dengan mengalami kompromi, pencobaan, penderitaan, penyakit, ketidakadilan, kekejaman, dan kematian yang biasa untuk keberadaan tersebut. Namun penyamaan hakekat Yesus Kristus dengan hakekat YHWH yang dinyatakan dalam ucapan-ucapan egw eimi, egô eimi tidak hanya berbicara tentang empati YHWH dengan manusia dalam penderitaannya,melainkan juga tentang suatu peristiwa historis yang dapat menyelamatkan orang Yahudi sehingga mereka tidak mati dalam dosa mereka.

Dalam Injil Yohanes, salib merupakan puncak kehidupan Yesus Kristus. Dari salib Ia berseru, NISYLAM, Yunani: tetelestai, tetelestai (Sudah selesai, Yohanes 19:30). Dalam peristiwa ini Yesus Kristus sebagai gembala benar-benar mempertaruhkan diri dalam menjaga domba-domba-Nya, yaitu dengan menyerahkan nyawa-Nya sendiri bagi mereka. Ucapan-ucapan egw eimi, egô eimi menghubungkan penyamaan diri Yesus Kristus dengan YHWH dalam kitab Yesaya dengan peninggian-Nya di atas salib (Yohanes 8:28). Orang Yahudi akan diselamatkan dari kematian karena dosa-dosa mereka bila mereka percaya bahwa Yesus Kristus adalah YHWH itu sendiri (Yohanes 8:24).

Bagi Yesaya, percaya akan YHWH sebagai penebus Israel berkaitan erat dengan percaya kepada Dia sebagai pencipta dunia. Yesaya mengaitkan frase ANI HU dengan kepercayaan kepada YHWH Pencipta. Dengan demikian ia menunjukkan bahwa selain maknanya yang lain, frase tentang penyataan diri YHWH itu juga menggambarkan YHWH sebagai pencipta dunia.

Penyamaan hakekat Yesus Kristus dengan hakekat YHWH kelihatan paling jelas ketika Ia berkata dalam Yohanes 8:28 bahwa Ia telah ada sebelum dunia diciptakan. Dalam kata-kata ayat inilah Yesus Kristus terutama menyamakan diri-Nya sendiri dengan logoV, logos dalam pendahuluan Injil Yohanes. Oleh logoV, logos Bapa menjadikan dunia. Memang ucapan-ucapan egw eimi, egô eimi tidak berbicara langsung tentang peranan Yesus Kristus sebagai pencipta, namun mungkin saja gagasan ini tersirat dalam latar belakang frase ini menurut Kitab Yesaya.

Sebagai rangkuman, dapat dikatakan, melalui frase egw eimi, egô eimi, Yohanes memperlihatkan Yesus Kristus sebagai penggenapan nubuat-nubuat Yesaya. Jika ucapan-ucapan egw eimi, egô eimi Yesus Kristus memang sengaja mengacu kepada nubuat-nubuat dalam Yesaya 42-43, maka dapat dikatakan pula, Yesus Kristus mengatakan bahwa nubuat-nubuat itu digenapi dalam diri-Nya sendiri.

Nubuat-nubuat itu menggambarkan saat, ketika YHWH sendiri akan menebus umat-Nya dan membawa mereka pulang ke negeri mereka sendiri. YHWH saja yang dapat berbuat demikian, karena Dialah Pencipta dan juga YHWH atas sejarah. Ilah-ilah Babel tidak dapat berbuat demikian. Ketika Yesus Kristus berkata, egw eimi, egô emi seperti yang terdapat dalam kitab Yesaya, Ia tidak hanya menyamakan diri dengan YHWH Israel yang esa dan sejati, tetapi juga menyatakan bahwa hari penyelamatan itu sedang digenapi dalam Dia.

Ada yang menyatakan bahwa gambaran Yohanes tentang Yesus Kristus bukanlah demikian. Menurut pandangan ini, Yohanes menyatakan bahwa Yesus Kristus terlebih dahulu menyatakan diri-Nya sama dengan YHWH, baru kemudian Dia disembah sebagai YHWH, bukan sebaliknya. Yohanes tidak mengatakan bahwa Yesus Kristus hanya diakui atau disembah sama dengan YHWH, melainkan Yesus Kristus sendiri yang menyamakan diri-Nya dengan YHWH. Justru ungkapan inilah yang menimbulkan pertentangan antara mereka sendiri. Ungkapan ini pula yang menyebabkan mereka menganjurkan agar Injil Yohanes tidak dianggap bersifat sejarah, bahkan menganjurkan agar Injil Yohanes tidak dipakai lagi untuk berbicara tentang ajaran Kristen. Sebab menurut mereka, implikasi-implikasi kristologi Yohanes jelas bertentangan dengan ajarannya sendiri. Menurut mereka, Injil Yohanes hendaknya dipandang sebagai tulisan orang Kristen kemudian hari, yang tidak memuat catatan historis tentang kata-kata Yesus Kristus. Dengan demikian, mereka berharap, agama Kristen tidak lagi akan menafsirkan inkarnasi secara harfiah.

Jelaslah kata-kata yang merupakan batu sandungan untuk para pendengar Yesus Kristus, masih menjadi batu sandungan bagi para penganut pluralisme agama yang membaca Injil Yohanes pada saat ini. Bedanya, para penganut pluralisme agama tidak ingin mengecam Yesus Kristus "historis" yang menyebut diri-Nya seperti itu; mereka justru mengecam gereja dan menganggapnya telalu sombong karena menyamakan Yesus Kristus dengan YHWH yang satu-satunya itu. Pada masa kini, sekali lagi Yesus Kristus yang dilukiskan dalam Injil Yohanes itu harus "menghilang dan meninggalkan Bait YHWH" (Yohanes 8:59).

Sekalipun demikian, selama ada pengikut-pengikut Tuhan Yesus Kristus dalam dunia, pastilah Ia tetap menjadi terang dunia (Yohanes 9:5). Yesus Kristus yang digambarkan Yohanes akan terus menjawab kebutuhan mereka yang buta sejak lahir, sekalipun mungkin saja mereka juga akan dikucilkan, sebab sudah diputuskan bahwa mereka yang mengaku Yesus sebagai YHWH dan Kristus dikucilkan (Yohanes 9:22). [ðððð]

Home